Sunan Mantingan Jepara: Nama Asli Sultan Hadlirin dan Kisah Dakwah Islam!

Sunan Mantingan adalah sebutan masyarakat Jepara untuk Sultan Hadlirin, pria yang namanya asli Raden Toyib (juga dikenal sebagai Pangeran Toyib atau Win-tang), seorang ulama dan sultan yang menyebarkan agama Islam di Jepara pada abad ke-16. Beliau bersama istrinya, Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Jepara dan Kalinyamat.

Siapa Sebenarnya Sunan Mantingan?

Sunan Mantingan atau Sultan Hadlirin adalah nama yang diabadikan oleh masyarakat Jepara untuk menghormati jasa-jasa beliau dalam menyebarkan Islam. Nama aslinya adalah Raden Toyib, seorang keturunan atau pendatang dari Aceh yang pernah belajar di tanah suci Mekkah.

Ada pula versi lain yang menyebut beliau berasal dari Tiongkok dengan nama Win-tang (Tjie Bin Thang), seorang saudagar yang terdampar di pantai Jepara dan kemudian berguru pada Sunan Kudus.

Beberapa fakta penting tentang Sunan Mantingan:

  • Nama asli: Raden Toyib / Pangeran Toyib / Win-tang
  • Gelar: Sultan Hadlirin, Sultan Kalinyamat, Sunan Mantingan
  • Asal: Aceh atau Tiongkok (tergantung versi sejarah)
  • Makam: Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah

Hubungan Sunan Mantingan dengan Masjid Mantingan

Di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, terdapat Masjid Astana Sultan Hadlirin yang dikenal juga sebagai Masjid Mantingan. Masjid ini adalah salah satu masjid kuno di Indonesia yang dibangun pada era Sultan Hadlirin dan menjadi simbol akulturasi budaya Islam dengan seni ukir Jepara yang khas.

Masjid Mantingan menjadi tempat ziarah utama bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya, terutama pada malam Jumat Wage atau hari-hari besar Islam. Komplek masjid ini juga merupakan tempat pemakaman Sunan Mantingan dan Ratu Kalinyamat, yang menjadi tujuan wisata religi tahunan.

Kisah Pernikahan Sunan Mantingan dengan Ratu Kalinyamat

Sunan Mantingan menikahi Retno Kencono, putri Sultan Trenggana dari Kerajaan Demak, yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat. Pernikahan ini terjadi setelah Raden Toyib (Win-tang) menjadi anak angkat seorang menteri Tiongkok bernama Tjie Hwio Gwan dan kemudian pindah ke Jawa.

Setelah menikah, Raden Toyib memperoleh gelar Pangeran Hadlirin dan menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak. Bersama Ratu Kalinyamat, mereka memerintah Jepara secara bersama-sama dan berhasil membangun desa Kalinyamat yang kini menjadi wilayah Kecamatan Kalinyamatan.

Peran Sunan Mantingan dalam Penyebaran Islam di Jepara

Sultan Hadlirin atau Sunan Mantingan diakui sebagai sang penyebar agama Islam di Jepara. Beliau bersama istri dan murid-muridnya, termasuk Panembahan Juminah Mantingan, berhasil menyebarkan Islam ke berbagai pelosok Jepara.

Beberapa peran penting Sunan Mantingan:

  • Menyebarkan Islam di Kota Ukir (Jepara) sejak era kerajaan
  • Membangun Masjid Mantingan sebagai pusat dakwah
  • Menjadi sultan dan ulama sekaligus
  • Mengajarkan seni ukir dan budaya Islam kepada penduduk Jepara

Makam Sunan Mantingan dan Tradisi Ziarah

Makam Sunan Mantingan terletak di komplek Masjid Astana Sultan Hadlirin, Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Masyarakat Jepara sangat menghargai jasa-jasa beliau dan menganggap makam ini sebagai tempat keramat yang penuh berkah.

Tradisi ziarah ke makam Sunan Mantingan besonders ramai pada:

  • Malam Jumat Wage (hari paling ramai peziarah)
  • Haul Mbah Juminah setiap tanggal 17 bulan Suro (Muharram)
  • Hari besar Islam seperti Iduladha dan Maulid Nabi

Para pejabat Kabupaten Jepara juga rutin berziarah ke komplek makam Sultan Hadlirin sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa beliau dalam menyebarkan Islam di Jepara.

Murid Sunan Mantingan: Panembahan Juminah Mantingan

Salah satu murid terkenal dari Sunan Mantingan adalah Panembahan Ki Ageng Juminah atau Mbah Juminah, yang memilih menetap di Mantingan untuk melanjutkan dakwah gurunya. Beliau dimakamkan di komplek yang bersanding dengan mushala kecil, sekitar 3-5 menit dari parkiran utama Masjid Astana Sultan Hadlirin.

Dalam versi lain, Sunan Mantingan dikenal sebagai murid dari Syekh R. Abdul Jalil atau Sunan Jepara, yang juga dikenal dengan nama Syekh Siti Jenar. Mbah Juminah memilih singgah di Mantingan untuk melanjutkan dakwah Islam di wilayah tersebut.

Perbedaan Versi Asal-Usul Sunan Mantingan

Terdapat beberapa versi tentang asal-usul Sunan Mantingan yang perlu diketahui:

VersiAsalNama Asli
Versi AcehAcehPangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528)
Versi TiongkokTiongkokWin-tang (Tjie Bin Thang), saudagar yang terdampar di pantai Jepara
Versi DemakDemakAnggota keluarga Kerajaan Demak melalui pernikahan dengan Retno Kencono

Semua versi ini memiliki kesamaan dalam hal peran Sunan Mantingan sebagai penyebar Islam di Jepara dan pendiri desa Kalinyamat.

Warisan Budaya dan Seni Ukir Jepara

Sunan Mantingan juga dikenal sebagai tokoh yang mengajarkan seni ukir kepada penduduk Jepara. Ayah angkatnya, Tjie Hwio Gwan, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara. Ini menjadi salah satu faktor mengapa Jepara kini dikenal sebagai Kota Ukir di Indonesia.

Masjid Mantingan menjadi simbol otentik peninggalan penyebaran Islam era Sultan Hadlirin, dengan berbagai ornamen yang menunjukkan akulturasi dari berbagai budaya era kerajaan masa lalu.

Kesimpulan

Sunan Mantingan adalah sebutan masyarakat Jepara untuk Sultan Hadlirin, ulama dan sultan yang berjasa besar dalam menyebarkan Islam di Jepara. Nama aslinya adalah Raden Toyib atau Win-tang, dengan berbagai versi asal-usul dari Aceh atau Tiongkok. Beliau bersama istrinya, Ratu Kalinyamat, membangun desa Kalinyamat dan menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa Tengah.

Makam Sunan Mantingan di Masjid Astana Sultan Hadlirin, Mantingan Jepara, menjadi tempat ziarah religi yang ramai dikunjungi peziarah, terutama pada malam Jumat Wage. Warisan beliau berupa Masjid Mantingan dan seni ukir Jepara tetap lestari hingga kini sebagai simbol akulturasi budaya Islam dan budaya Jawa.

Tinggalkan komentar