PP TUNAS 2026 menjadi perhatian orang tua setelah pemerintah menerapkan kebijakan perlindungan anak di ruang digital. Aturan ini hadir di tengah meningkatnya penggunaan media sosial dan layanan digital oleh anak, sementara risiko paparan konten tidak sesuai usia, perundungan siber, penipuan, dan eksploitasi online juga semakin perlu diantisipasi.
Bagi keluarga, kebijakan tersebut bukan sekadar persoalan boleh atau tidaknya anak membuka aplikasi. Orang tua perlu memahami tujuan aturan, platform yang menjadi perhatian, serta cara mendampingi anak agar tetap dapat memanfaatkan teknologi untuk belajar dan berkomunikasi secara sehat.
Apa Itu PP TUNAS?
PP TUNAS merupakan singkatan yang digunakan untuk Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Aturan ini menjadi dasar penguatan tanggung jawab penyelenggara sistem elektronik dalam menyediakan layanan digital yang lebih aman bagi anak.
Ketentuan teknisnya diperkuat melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Pemerintah menyatakan implementasi kebijakan dimulai secara bertahap pada 28 Maret 2026, dengan perhatian awal pada platform digital berisiko tinggi.
Mengapa Perlindungan Anak di Ruang Digital Diperlukan?
Anak dapat memperoleh manfaat besar dari internet, mulai dari mengakses bahan belajar hingga mengembangkan kreativitas. Namun, kemampuan anak dalam memahami risiko digital belum selalu sebanding dengan luasnya informasi yang dapat diakses. Konten tidak sesuai usia, interaksi dengan orang asing, penipuan, dan tekanan sosial di media digital dapat memengaruhi keselamatan maupun perkembangan anak.
Perlindungan tidak cukup dilakukan dengan meminta anak berhati-hati. Platform juga perlu menerapkan sistem yang mempertimbangkan usia pengguna, pengaturan privasi, moderasi konten, dan mekanisme pengaduan. Di sisi lain, keluarga dan sekolah tetap memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan digital yang bertanggung jawab.
Platform Apa Saja yang Menjadi Perhatian?
Pada tahap awal implementasi, pemerintah menyebut sejumlah platform berisiko tinggi, antara lain YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. Penerapan dilakukan secara bertahap sesuai ketentuan dan evaluasi pemerintah. Pada evaluasi enam bulan yang disampaikan Komdigi pada September 2026, kepatuhan platform masih terus dipantau, sehingga tidak tepat menganggap semua layanan telah menerapkan kebijakan dengan cara yang identik. Karena kebijakan dapat diperbarui, orang tua sebaiknya mengikuti informasi terbaru dari Komdigi dan pengumuman masing-masing platform.
Ketentuan ini tidak berarti seluruh aktivitas digital anak dilarang. Fokus kebijakan adalah tata kelola layanan berisiko dan perlindungan pengguna anak. Anak tetap dapat diarahkan menggunakan teknologi untuk pembelajaran melalui layanan yang sesuai usia dan berada dalam pendampingan.
Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?
1. Periksa Usia dan Pengaturan Akun Anak
Orang tua perlu memastikan informasi usia pada akun sesuai keadaan sebenarnya. Jangan mengubah tanggal lahir agar anak dapat melewati batasan layanan. Periksa juga pengaturan privasi, siapa yang dapat menghubungi anak, dan jenis konten yang dapat dilihat.
2. Bangun Komunikasi Terbuka
Ajak anak bercerita tentang aplikasi yang digunakan, teman online, dan pengalaman yang membuatnya tidak nyaman. Hindari hanya mengandalkan larangan. Anak perlu mengetahui bahwa mereka dapat meminta bantuan ketika menerima pesan aneh, ancaman, atau ajakan bertemu dari orang yang dikenal melalui internet.
3. Buat Kesepakatan Penggunaan Perangkat
Tentukan waktu penggunaan gawai, area bebas perangkat, dan prioritas kegiatan seperti belajar, istirahat, serta interaksi keluarga. Kesepakatan akan lebih mudah dijalankan jika orang tua juga memberi contoh penggunaan ponsel yang seimbang.
4. Ajarkan Keamanan Data Pribadi
Ingatkan anak untuk tidak membagikan alamat rumah, nama sekolah, nomor telepon, kata sandi, atau foto pribadi kepada orang yang tidak dikenal. Ajarkan pula cara memblokir dan melaporkan akun yang mengganggu.
Bagaimana Jika Akun Anak Dibatasi Platform?
Jika sebuah platform meminta verifikasi usia atau membatasi akun, baca pemberitahuan resmi dari aplikasi tersebut. Gunakan prosedur bantuan yang disediakan platform dan jangan menyerahkan dokumen identitas kepada akun layanan pelanggan tidak resmi. Orang tua dapat membantu anak memahami alasan pembatasan dan mencari alternatif kegiatan digital yang sesuai.
Hindari menggunakan identitas orang dewasa untuk membuat akun pengganti bagi anak jika hal itu bertentangan dengan ketentuan layanan. Cara tersebut dapat mengurangi efektivitas perlindungan dan menimbulkan masalah baru pada keamanan akun.
Menjadikan Aturan sebagai Kesempatan Membangun Literasi Digital
PP TUNAS akan lebih bermakna apabila dipahami sebagai bagian dari pendidikan digital keluarga. Anak perlu dibekali kemampuan menilai informasi, menjaga privasi, mengenali perundungan, dan memahami jejak digital. Sekolah dapat memperkuatnya melalui pembelajaran etika komunikasi dan keamanan internet.
Orang tua dapat membaca penjelasan kebijakan melalui Sekretariat Negara dan pengumuman Komdigi tentang implementasi PP TUNAS.
Bagaimana Sekolah Dapat Mendukung Penerapan PP TUNAS?
Sekolah dapat membantu anak memahami aturan ruang digital melalui pendidikan literasi digital yang sesuai usia. Materi tidak harus selalu berbentuk larangan. Guru dapat mengajak peserta didik mengenali informasi palsu, menjaga data pribadi, menghormati teman di ruang daring, dan memahami akibat menyebarkan foto atau komentar tanpa izin. Pembelajaran semacam ini membantu anak membangun pertimbangan sebelum bertindak di internet.
Komunikasi antara sekolah dan orang tua juga penting. Jika terdapat perundungan atau penyebaran konten yang merugikan peserta didik, sekolah perlu memiliki prosedur penanganan dan menjaga privasi anak. Anak sebaiknya tidak dipermalukan atau disalahkan ketika melaporkan pengalaman buruk di ruang digital.
Menjaga Keseimbangan antara Perlindungan dan Hak Anak
Perlindungan anak bukan berarti menghilangkan seluruh kesempatan mereka untuk belajar menggunakan teknologi. Anak tetap membutuhkan ruang untuk mengembangkan kreativitas, mencari pengetahuan, dan membangun keterampilan digital. Pendampingan yang baik membantu mereka memahami batas aman, sementara pembatasan akses perlu dijalankan sesuai ketentuan dan mempertimbangkan kebutuhan perkembangan anak.
Orang tua dapat mengevaluasi kebiasaan digital keluarga secara berkala. Tanyakan aplikasi apa yang digunakan, apa manfaatnya, dan apakah ada pengalaman yang membuat anak tidak nyaman. Dengan suasana komunikasi yang terbuka, anak lebih mungkin meminta pertolongan ketika menghadapi risiko online.
Apakah Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Menggunakan Seluruh Internet?
Tidak. Aturan tersebut membatasi kepemilikan atau akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi sesuai ketentuan, bukan melarang seluruh penggunaan internet. Anak tetap dapat memanfaatkan layanan pembelajaran dan teknologi yang sesuai usia. Orang tua perlu memeriksa kebijakan platform, bukan hanya menyimpulkan berdasarkan unggahan singkat di media sosial.
Untuk mengajarkan keamanan praktis, keluarga juga dapat membaca panduan mengenali tautan penipuan dan membahas contoh pesan mencurigakan bersama anak.
Kesimpulan
PP TUNAS memperkuat perlindungan anak dalam penggunaan platform digital, terutama layanan yang dinilai berisiko tinggi. Orang tua tetap perlu mendampingi anak, membangun komunikasi terbuka, mengajarkan keamanan data, dan membiasakan penggunaan teknologi secara seimbang. Perlindungan digital akan berjalan lebih baik ketika pemerintah, platform, keluarga, dan sekolah saling mendukung.
